Monday, 8 August 2016

Jenis Sambungan Kayu

          tulisan ini merupakan kumpulan dari komen2 dari agan kaskuser yang ada di group woodworker. tulisan ini dibuat untuk kepentingan saya sendiri untuk belajar kembali di kala lupa dan juga untuk orang lain yang memerlukannya.
          sambungan kayu merupakan sambungan yang menggabungkan 2 buah kayu yang di sambungkan secara tegak lurus. sambungan biasanya menggunakan alat bantu ataupun tidak menggunakan alat bantu sehingga sambungan itu terlihat bagus atau terlihat siku (atau saya biasa menyebutya manis). bagi pemula biasa sambungan yang biasa digunakan yaitu sambungan mittre joint ataupun but joint. dikarenakan sambungan jenis ini merupakan jenis sambungan yang tidak membutuhkan alat bantu yang begitu mahal, hanya menggunakan gergaji manual dan paku sambungan ini bisa dibuat.

Sambungan Pada kayu di bagi menjadi beberapa macam diantaranya :

1. Butt Joint





     Sambungan butt joint merupakan sambungan yang biasa saya gunakan dikarenakan kemudahan dalam pembuatannya. untuk sambugan jenis dowel butt joint kita pertama tama membuat lubang yang sama besar di kedua sisi kayu yang akan kita sambung, lalu kita membuat stik kayu untuk di masukkan kedalam lubang yang kita buat, jumlah lubang yang ita buat tergantung dari dimensi kayu dan juga beban yang akan di salurkan dari sambungan tersebut, semakin besar bobot yang disalurkan dan semakin besar dimensi kayunya semakin besar juga lubang yang dibuat dan juga bisa 2 lebih banyak, 
    Jenis biscuit butt joint merupakan jenis sambungan butt joint yang paling mahal dikarenakan bentuk biscuit yang digunakan umumnya susah di buat (ada kita bisa beli yang sudah jadi) dan juga lubang yang dibuatnya lumayan rumit dalam pembuatannya (harus berbentuk kaya biskuit) menggunakan alat khusus (ada di jual juga) atau manual, metode ini merupakan sambungan yang saya jarang gunakan.
   Screw butt joint merupakan jenis sambungan yang sangat sering saya buat, dikarenakan kemudahannya dalam pembuatannya dan juga alat yang digunakan cukup scrup dan juga bor. tetapi dalam pembuatan sikunya harus memiliki keahlian khsus dikarenakan untuk pemula biasanya tidak begitu berbentuk siku, saya biasa untuk mengantisipasi nya menggunakan alat bantu berupa clamp siku atau clamp corner (biasa dijual di pasaran murah juga, 4 buah harganya 200ribu). dan juga scrup yang digunakan skrup yang memiliki kepala yang datar, atau type F namanya (kalau ga salah ya). seingga ketika kita bor maka posisi skrup itu sejajar sama permukaan kayu (tidak menonjol).
        Pocket hole butt joint metode pembuatan sambungan jenis ini rumayan sulit juga dan saya jarang menggunakannya dikarenakan dalam pembuatannya hasil yang dihasilkan malah merusak kayunya, sehingga dalam pembuatannya lebih bagus menggunakan alat bantu berupa pocket jig hole (ada yang jual juga, tapi sayang harganya mahal).

2. Lap Joint atau Overlap Joint



      jenis sambungan lap joint merupakan sambungan yang biasa digunakan oleh para pengrajin di indonesia, dulu biasanya tempat tidur dari jati biasanya menggunakan sambungan ini untuk menyatukan bagian dalamnya. biasanya jenis sambungan ini menggunakan gergaji jan juga pahat dalam pembuatan sambungannya.

3. Briddle Joint


4. Mitre Joint



jenis sambungan ini merupakan jenis sambungan yang biasa diguankan untuk pembuatan frame dikarenakan hasil dari sambungan ini lebih bagus dan juga mudah dengan dimensi kayu yang kecil.
biasanya bagian kayu dibuat sudut 45 derajat sehingga ketika disambung maka terbentuk sambungan siku. biasanya sambungan ini menggunakan mitre saw untuk memudahkan dalam pemotongan kayu yang presisi.

5. Finger Joint
      Jenis finger joint ini biasa dibuat menggunakan circular saw yang dimodifikasi sehingga mudah dalam pembuatannya. sekali menggergaji satu kaki dan lubang terbentuk. biasanya yang membedakannya yaitu penggunakan blade nya berupa dado.

6. Dove Tail Joint


     jenis sambungan ini merupakan jenis sambungan yang susah dalam pembuatannya, tetapi sambungan yang dihasilkan sangat bagus. sangat kuat.

7. Dado Joint.


pembuatan sambungan ini bisa menggunakan trimer yang di set untuk mengupas kayu sehingga kayu satunya lagi bisa masuk.

8. Mortise and Tenon



Terima Kasih.



Sumber

http://www.kaskus.co.id/thread/5610d56c48177ecf638b4569/teknik-pekerjaan-kayu-semua-kumpul-disini----woodworker-lounge/#



Saturday, 6 August 2016

Perbandingan Harga Alat Circular Saw (Gergaji Mesin)

Circular saw adalah gergaji mesin yang proses pemotongan dilakukan dengan kondisi benda kerja tetap, blade atau alat potong berputar pada sumbu horizontal dengan kecepatan tertentu untuk menghasilkan kecepatan pemotongan, kecepatan pemakanan juga dihasilkan dari gerakan mendatar dari perkakas potong, ini dihasilkan dengan mendorong handle pemakanan yang terikat pd rumah spindle.

Diameter piringan gergaji dapat mencapai 200 mm sampai 400 mm dengan ketebalan 0.5 mm dengan ketelitian gerigi keliling piringan memiliki ketinggian antara 0.25 mm sampai 0.5 mm. 



Kelebihan Mesin Circular saw :
-  Biasanya hanya digunakan dan tentunya lebih nyaman digunakan untuk memotong secara lurus dan panjang.
- Mata pisau circular relative lebih lama pergantianya dinabdingkan mata pisau jigsaw
Kelemahan mesin Circular saw :
-  Tidak dapat bergerak ke kiri-kanan atau zigzag dan melingkar.
-  Daya listrik mesin umumnya lebih besar dibandingkan gergaji jigsaw
-  Selain untuk kayu mesin ini hanya dapat digunakan untuk memotong material alumunium, degan menggunakan mata pisau yang sesuai.
-  Umumnya memeiliki berat relative berat dibandingkan jigsaw.

berikut saya sampaikan beberapa perbandingan harga circular saw.








Monday, 18 July 2016

Tools (Alat-alat) Tukang Kayu Part 1


      mulai dari awal tahun ini aku sering liat video di youtube mengenai barang barang yang dibuat oleh sendiri khusus nya furniture kursi, meja, lemari, kitchen set, dll.  sudah beberapa channel yang jd dijadikan tontonan yang biasa aku liat di waktu senggang.
       setelah mempelajari beberapa alat yang biasa digunakan akhirnya aku memutuskan untuk beli beberapa alat wajib yang biasa digunakan untuk membuat furniture sendiri.



     alat-alat yang dibeli ada beberapa yang di beli di bontang dan ada juga yang di beli di samarinda. secara harga sih ga beda jauh sih, antara beli di jawa dan d kaltim ini. khususnya circular saw merek bosch malahan lebih murah di samarinda dari pada di bandung.
      




Tuesday, 21 June 2016

Cara Menebalkan Garis di Autocad

1. buat dulu garis yang diinginkan atau klik garis yg diinginkan untuk di tebalkan.


2. klik properties.

maka akan muncul tampilan properties di samping kanan layar.

3. ubah ukuran tebal garis (lineweight) pada isian properties di kanan layar

pilih ketebalan garis yang diinginkan.

4. ketik command " lineweight " maka akan muncul tampilan 

Centang isian display lineweight
5. hasilnya.

hasilya garis menjadi tebal.







Pemantauan Kestabilan Lereng Menggunakan Peralatan

1)     Robotic Total Station (RTS)

Prinsip kerja yaitu menggunakan media prisma yang dipasang pada lereng tambang sebagai titik acuan. Data hasil pembacaan RTS dapat diketahui secara langsung (real time) sehingga analisis terhadap pergerakan massa batuan dapat dilakukan lebih cepat.
Hasil pemantauan RTS adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara waktu-pergerakan (displacement). Apalbila kurva waktu-pergerakan menanjak tajam dimana menandakan kemungkinan longsoran progresif akan terjadi.

2)     Radar

Radar merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk pemantauan ketidakstabilan lereng secara real time dan menerus selama 24 jam dimana mampu mendeteksi adanya pergerakan melalui perubahan kecepatan pergeseran lereng.

3)     Patok Geser

Pengukuran lereng menggunakan patok geser biasanya dilakukan dengan pemetaan gerakan tanah dan pengukuran posisi patok geser.

4)     Ekstensometer

Ektensometer dipergunakan untuk memantau pergerakan massa batuan pada permukaan lereng yang telah teridentifikasi adanya retakan (crack).

5)     Crackmeter

Prinsip kerja alat yaitu dengan memasang 2 patok pada kedua sisi yang berlawanan dari arah retakan.

6)     Inclinometer


Alat pantau yang berfungsi untuk menidentifikasi adanya potensi pergerakan lateral yang terjadi diawah permukaan pada kedalaman tertentu.

Pemantauan Kestabilan Lereng Secara Visual

Pemantauan secara visual terhadap lereng tambang dimaksudkan untuk indentifikasi awal terkait :
  • ·  Adanya kondisi massa batuan yang bertambah lemah (rusak) akibat pelapukan, erosi, undercutting, loosening, atau karena peledakan.
  • ·     Adanya rension crack dan subsidence pada crest, berm, dan jalan tambang, sebagai indicator kemungkinan kelongsoran akan segera terjadi.

ü  Rekahan tarik (crack) akan terjadi jika material lereng telah bergerak kea rah pit.
ü  Perpindahan ini tidak dapat di deteksi dari lantai pit, sangat penting untuk secara regular menginfeksi crest dari highwall diatas daerah penambangan aktip.
ü  Inspeksi dengan frekuensi sering mungkin diperlukan selama periode musim hujan dan setelah peledakan besar.
  • ·     Adanya bahaya batuan runtuh (rock fall ) jia di permukaan lereng terdapat bongkahan batuan lepas (bolder).
  • ·      Adanya longsoran pada lereng dengan skala kecil maupun besar, serta gejala runtuhnya          sebagian batuan lereng secara gradual (raveling)
  • ·         Adanya scrarp dan rayapan (creep) pada permukaan lereng.

ü  Scraps terjadi jika material telah bergerak ke bawah secara vertical ataupun hamper vertical
ü  Rayapan lereng bias dilihat dari lendutan yang terjadi di muka lereng atau terjadinya pergerakan subsurface perlahan-lahan dari lereng.
  • ·         Adanya aliran air tidak normal yang mengakibatkan erosi pada muka lereng.

ü  Peningkatan aliran air di dalam lereng dapat menyebabkan pengaruh yang buruk pada lereng


Bentuk dokumentasi dari hasil pemantauan secara visual adalah peta potensi longsor yaitu peta pit plan yang memuat informasi tentang kondisi ketidakstabilan lereng tambang dilengkasi dengan penampang melintang.

Tingkatan Pemantauan Ketidakstabilan Lereng

Prinsip dasar pemantauan ketidakstabilan lereng adalah pengukuran pergerakan lereng yang tidak stabil, sedangkan intensitas pengambulan datanya mengacu pada tingkat stabilitas dan aktivitas kegiatan operasional penambangan yang berada di area kaki lereng.

1)     Tingkat 1

Pemantauan terhadap seluruh lereng tambang dan timbunan batuan penutuo yang bertujuan untuk memetakan daerah-daerah yang berpotensi tidak stablil.
Tabel Tipe, Peralatan, Tujunan pengukuran pada pemantauan tingkat 1
Tipe Pengukuran
Peralatan
Tujuan
Pergerakan massa batuan (displacement)
EDM-theodolite, Automatic level
·   Mendeteksi pergerakan awal massa batuan
·   Mengukur arah & laju displacement
·   Menentukan coverage (cakupan) di sekitar EDM
·   Menentukan daerah yang tidak stabil
Tinggi muka air tanah
Piezometer, water level indicator, pompa, packer
·   Menentukan daerah pengaruh air tanah disekitar area penambangan
·   Memperkirakan efektivitas system penirisan tambang
Tekanan air tanah pada lereng
Piezometer,  water level indicator
·   Menentukan tekanan air tanah pada lereng tambang
·   Memantau tekanan air tanah
Ground vibration
Vibration-meter
·   Mengukur tingkat getaran peledakan
·   Memonitor kondisi dinding lereng akibat peledakan

2)     Tingkat 2

Pemantauan detail dari daerah-daerah yang berpotensi tidak stabil yang didasarkan pada peta hasil pemantauan tingkat 1. Tujuan dari pemantauan tingkat 2 adalah untuk menentukan area yang tidak stabil dan batas-batasnya, besar dan laju pergerakan, serta arah umum pergerakan.
Pada tingkatan 2, pemantauan yang dilakukan adalah.
·         Peningkatan intensitas pemantauan dengan EDM-theodolit dan memperluas area serta ketelitian pengukuran.
·         Pengukuran pergerakan tension crack menggunakan peralatan anatara lain patok geser dan extensometer.
·         Mengidentifikasi pengaruh peledakan terhadap zona pergerakan yang dipergunakan untuk mendesain ulang pola peledakan sehingga dapat mengurangi getaran akibat pledakan.

3)     Tingkat 3


Pemantauan terhadap daerah-daerah yang tidak stabil, sehingga dapat segera dilakukan langkah-langkah pengamanan.    Tujuan utama pemantauan tingkat 3 adalah menjaga agar tidak terjadi korban kepada orang dan peralatan pada area tidak stabil, namun operasi penambangan dapat berjalan secara aman. Pada tingkatan ini, pengamatan dilakukan menggunakan peralatan realtime yang dilengkapi dengan early warning system.

Objek Pemantauan Kestabilan Lereng


Objek Pemantauan

1)     Pergerakan massa batuan pada permukaan lereng

Salah satu indikasi pergerakan massa batuan dapat ditunjukan dengan adanya rekahan-rekahan pada permukaan lereng yang terbentuk. Jenis dan waktu terjadinya longsoran ditentukan oleh pola dan kecepatan pergerakan massa batuan. Oleh karena itu pemantauan terhadap pergerakan massa batuan dapat digunakan untuk memprediksi radius dan waktu longsoran.

2)     Perubahan muka air tanah

Muka air tanah merupakan salah satu factor yang mempengaruhi ketidakstabilan lereng tambang dan timbunan batuan penutup. Adanya hujan pada area tambang dan pembuatan lereng tambang memungkinkan terjadinya perubahan muka air tanah.

3)     Kondisi batuan yang telah terbuka

Pemantuan terhadap kondisi batuan yang telah terbuka meliputi antara lain : tingkat kejenuhan batuan, adanya bidang lemah pada lereng, batuan menggantung dan perubahan kondisi batuan akibat terekpose lama yang menyebabkan penurunan kekuatan massa batuan.

Factor - Faktor yang Mempengaruhi Ketidakstabilan Lereng


1.      Lereng tambang

Ketidakstabilan lereng tambang dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain : geometri lereng, kekuatan massa  batuan lereng, struktur batuan, air tanah, beban luar dan tegangan insitu. Factor-faktor tersebut dapat juga dipergunakan untuk mengenali tanda-tanda suatu potensi kelongsoran lereng.

a.      Geometri lereng

Penentuan geometri lereng tambang mempertimbangkan factor keamanan dan nilai keekonomian. Pada kondisi batuan yang sama, semakin besar kemiringan dan tinggi suatu lereng maka kemantapannya semakin kecil. Pembentukan lereng yang landau akan memerlukan biaya tinggi dalam hal pengupasan batuan penutup, meskipun lereng tersebut lebih stabil.


b.      Kekuatan massa batuan

Kekuatan massa batuan pembentuk lereng sangat berpengaruh terhadap kestabilan lereng yang dinyatakan dengan kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kohesi (c) dan sudut geser dalam (phi), semakin besar kekuatan massa batuan, maka lereng tambang akan semakin stabil.

c.       Struktur batuan

Struktur batuan yang sangat mempengaruhi ketidakstabilan lereng adalah bidang-bidang sesar, pelapisan, dan rekahan. Struktur batuan tersebut merupakan bidang lemah (diskontinuitas) dan juga sebagai zona rembesan air, sehingga batuan lebih mudah longsor.

d.      Air tanah

Pengaruh air tanah terhadap kestabilan lereng terletak pada adanya tekanan air pori yang akan mengurangi kekuatan geser, dan juga kandungan air tanah meningkatkan berat batuan yang akan menjadi beban terhadap lereng.

e.       Beban luar

Beban luar yang dapat mempengaryuhi ketidakstabilan lereng antara lain :
·         Beban dinamik, beban alat berat yang bekerja di sekitar lereng, getaran dari akibat peledekan dan gempa bumi.
·         Beban static yaitu berupa beban bangunan/infrastruktur, koam, dll

f.        Tegangan insitu

Pada tambang terbuka yang sangat dalam atau mempunyai lereng tambang sangat tinggi, maka tegangan (stress) insitu dapat menyebabkan ketidakstabilan lereng.

2.      Lereng timbunan

Pada lereng timbunan batuan penutup yang merupakan tumpukan batuan pecah (broken rocks), bentuk longsoran yang mungkin terjadi adalah mendekati circular failure atau sering juga disebut longsoran busur.
Factor-faktor yang mempengaruhi ketidakstabilan lereng timbunan adalah
·                         Beban dinamik peralatan.
·                          Material penyusun timbunan
·                          Geometri lereng
·                         Air permukaan, dan air tanah
·                          Fondasi timbunan  (tapak yang tidak stabil berupa jenis lumpur)
·                          Laju dan jenis penimbunan (tingkat kelajuan timbunan yang tinggi mengakibtkan                                  ketidakstabilan lereng timbunan).

Peraturan Perundangan Untuk Geoteknik Pertambangan


Dasar Hukum

    Dalam penyusunan pedoman teknik pemantauan kestabilan lereng penambangan dan timbunan batuan penutup ini, peraturan perundangan yang menjadi acuan adalah sebagai berikut :

11.       Undang-undang No.4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara

22.       Peraturan pemerintah no 55 tahun 2010, tentang pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan            pengelolaan usaha pertambangan mineral dan batubara

33.       Keputusan menteri pertambangan dan energy nomor : 555.K/26/M.PE/1995, tentang keselamatan        dan kesehatan kerja pada pertambangan umum.

44.       Keputusan menteri pertambangan dan energy nomor 1211.K/008/M.PE/1995 tentang pencegahan       dan penanggulangan perusakan dan pencemaran lingkungan pada kegiatan usaha pertambangan           umum


55.       Keputusan menteri energy dan sumber daya mineral nomor : 1453.K/29/MEM/2000 tentang                pedoman teknik penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum.

Daftar Istilah - Istilah Geoteknik di Pertambangan

11.       Lereng adalah bentang alam yang bentuknya miring terhadap bidang horizontal.
Ø  Lereng alam adalah lereng yang terbentuk karena proses-proses alam, misalya lereng suatu bukit atau gunung
Ø  Lereng buatan adalah lereng yang terbentuk karena aktifitas manusia
Ø  Lereng yang stabil adalah lereng yang kekuatan geser (shear strength) dari material atau batuannya lebih besar dan dapat menahan gaya geser (shear stress) yang menyebabkan kelongsoran akibat gaya berat pada material
22.       Safety factor adalah factor keamanan dari lereng/teras penambangan terbuka. Factor ini adalah angka perbandingan untuk menentukan kemantapan lereng yang tergantung pada tahanan geser material, tahanan gelinding, sifat air tanah, dan sifat batuan. Secara matematika safety factor adalah perbandingan antara stress ultimate dengan stress kerja.
33.       Pit slope adalah lereng (kemiringan) bukaan tambang yang dinyatakan dengan besarnya sudut dinding bukaan tambang yang diukur dari garis tegak dengan garis khayal yang merupakan garis menghubungkan titik-titik teras tambang.
44.       Pit slope monitoring adalah alat atau sarana yang digunakan untuk memahami perilaku massa batuan dan untuk mengidentifikasi area-area yang berpotensi akan terjadi longsor.
55.       Crest adalah bagian teratas dari lereng tunggal atau bagian teratas dari lereng keseluruhan.
66.       Berm adalah teras yang digunakan untuk landasan kerja untuk pengupasan lapisan penutup
77.       Slope bench angle adalah sudut kemiringan lereng.
88.       Raveling adalah gejala runtuhnya sebagian batuan lereng secara gradual.
99.       Undercutting adalah penggalian pada bagian bawah lereng (toe) yang menyebabkan kemiringan lereng menjdi lebih curam dari design.
110.   Threshold level adalah ambang batas pergeseran lereng yang diijinkan.
111.   Electronic distance measured (EDM) adalah alat pengukur jarak secara elektronik.
112.   Robotic total station (RTS) adalah alat pemantauan stabilitas lereng yang dapat mencatat data dan melaporkan hasilnya secara otomatis.
113.   Safety berm adalah lebar jenjang untuk pengamanan batuan jatuh.
114.   Inter-ramp slope adalah sudut kemiringan antara toe dari ramp pada suatu elevasi dengan crest dari ramp pada elevasi yang lebih tinggi dalam suatu penampang melintang.
115.   Low wall adalah sisi bukaan tanah penutup batubara atau bahan galian tambang lainnya pada tambang terbuka, searah dip batubara.

116.   High wall adalah permukaan kerja tambang, tegak lurus terhadap dip batubara.


s  

   

Friday, 10 June 2016

Jenis - Jenis Palu

Palu adalah alat yang digunakan untuk memukul paku dan juga ada sebagian yang bisa untuk mencabut paku juga. Ada beberapa jenis palu nantara lain:

1.1.1       Palu Karet

Palu karet berfungsi untuk memukul benda dari bahan lunak atau keras tanpa merusak komponen yang dipukul.

1.1.2       Palu Plastik

Palu plastic berfungsi untuk memukul benda dari bahan lunak atau keras tanpa merusak komponen yang dipukul

1.1.3       Palu tembaga

Palu tembaga berfungsi untuk memukul benda dari bahan logam yang keras tanpa merusak komponen yang dipukul

1.1.4       Palu Besi

                      Palu besi berfungsi untuk memukul benda dari bahan logam yang keras dibantu dengan alat                                perantara.



Berikut beberapa jenis-jenis palu yang saya ketahui. Sumber –sumber dari tulisan ini yaitu kumpulan dari beberapa tulisan yang tersebar di google dan saya kumpulkan menjadi sebuah tulisan yang utuh.


Bontang, 10 Jjuni 2016

Jenis - Jenis Gergaji

Gergaji memiliki beragam jenis dan fungsi, ada yang khsus memotong kayu, tripleks, besi atau pipa. Salah memilih jenis gergaji bisa membuat potongan jelek, macet, bahkan mata gergaji cepat tumpul dan patah. Tampilan gergaji pemotong kayu umumnya besar dengan mata gergaji kasar dan jarak antaramata gergaji renggang. Sementara gergaji pemotong besi memiliki mata gergaji yang lebih halus dengan jarak antar mata gergaji yg lebih rapat.

1.1.1       Coping Saw

Jenis gergaji coping saw dapat digunakan untuk memotong bentuk-bentuk rumit pada bagian yang sempit pada tripleks dan papan. Mata gergaji coping saw kecil, tipis dan tajam.

1.1.2       Handsaw

Gergaji pemotong dan pembelah balok kayu disebut handsaw atau ripsaw. Gergaji kayu ini dirancang untuk memotong kayu dengan jalur urat searah. Mata kayu jika tumpul bisa di asah dengan kikir khusus

1.1.3       Crosscut Saw

Jenis crosscut saw digunakan untuk memotong kayu secara melintang. Gergaji ini mempunyai gigi penyeimbang yang lebih kecil. Untuk berbagai pekerjaan, para tukang biasanya menggunakan crosscut nomor 8.

1.1.4       Backsaw

Gergaji jenis backsaw yang berukuran kecil sangat tepat jika dipakai untuk membuat potongan diagonal seperti membuat sambungan bingkai foto atau lemari.

1.1.5       Keyhole Saw

Keyhole saw berukuran kecil dan didesain khusus untuk memotong bagian-bagian yang sempit.

1.1.6       Hacksaw

Hacksaw adalah gergaji khusus pemotong logam yang dapat dipakai memotong pastik atau pipa keras. Mata gergaji halus dan jarak antar mata gergaji pun rapat.

1.1.7       Jig Saw

Jig saw adalah gergaji mesin yang digunakan untuk memeotong atau menggergaji (kebanyakan kayu) dengan bentuk apa saja mulai dari bentuk kurva yang melengkung-lengkung hingga yang lurus-lurus.  Bentuknya kecil dan dapat dipegang dengan satu tangan. Mata gergaji bergerak bolak balik (naik turun). Mesin gergaji ini umumnya memiliki pisau gergaji dengan  panjang antara 300 mm sampai 900 mm dengan ketebalan 1.25 mm sampai 3 mm dengan jumlah gigi rata-rata antara 1 sampai 6 gigi per inchi dengan material HSS
Kelebihan mesin gergaji jigsaw :
ü  Dapat bergerak ke kiri kanan atau zigzag dan melingkar
ü  Daya listrik mesin umumnya lebih kecil dibandingkan gergaji circular
ü  Selain untuk kayu dapat juga digunakan untuk memeotong material lain seperti : besi, PVC, akrilik tergantung mata pisau yang digunakan.
ü  Umumnya memiliki berat yang lebih ringan dibandingkan gergaji circular.
Kelemahan mesin gergaji jigsaw :
ü  Bila digunakan untuk memotong secara lurus dan cukup panjang, dan berulang ulang maka penggunanaan mesin ini memakan waktu yang lebih lama dibandingkan circular saw.
ü  Mata pisau lebih cepat mudah patah, sehingga frekuensi penggantian mata lebih cepat dibandingkan dengan circular saw.

1.1.8       Circular Saw

Circular saw adalah gergaji mesin yang proses pemotongan dilakukan dengan kondisi benda kerja tetap, blade atau alat potong berputar pada sumbu horizontal dengan kecepatan tertentu untuk menghasilkan kecepatan pemotongan, kecepatan pemakanan juga dihasilkan dari gerakan mendatar dari perkakas potong, ini dihasilkan dengan mendorong handle pemakanan yang terikat pd rumah spindle.
Diameter piringan gergaji dapat mencapai 200 mm sampai 400 mm dengan ketebalan 0.5 mm dengan ketelitian gerigi keliling piringan memiliki ketinggian antara 0.25 mm sampai 0.5 mm.






Berikut beberapa jenis-jenis gergaji yang saya ketahui. Sumber –sumber dari tulisan ini yaitu kumpulan dari beberapa tulisan yang tersebar di google dan saya kumpulkan menjadi sebuah tulisan yang utuh.


Bontang, 10 Jjuni 2016